Yayasan Kebaya Yogyakarta Gandeng Jurnalis Perkuat Narasi Keberagaman dan Hak ODHIV

  • Administrator
  • Rabu, 08 April 2026 09:53
  • 8 Lihat
  • Sorotan

Yayasan Keluarga Besar Waria Yogyakarta (Kebaya) memperkuat kolaborasi dengan puluhan jurnalis di Daerah Istimewa Yogyakarta guna mendorong penyampaian pesan keberagaman sekaligus meningkatkan dukungan terhadap pemenuhan hak orang dengan HIV (ODHIV) serta komunitas transpuan. Kegiatan tersebut digelar sebagai upaya membangun narasi media yang lebih inklusif dan bebas stigma di tengah masyarakat.

 

Pembina Yayasan Kebaya Yogyakarta, Ruli Malay, menegaskan media memiliki peran strategis dalam membentuk cara pandang publik terhadap kelompok keragaman gender. Menurutnya, pemberitaan yang berimbang dan humanis dapat membantu masyarakat memahami bahwa komunitas transpuan merupakan bagian integral dari kehidupan sosial, bukan kelompok yang terpisah dari masyarakat.

 

Ia menjelaskan, keterlibatan komunitas Kebaya dalam kegiatan sosial telah berlangsung lama. Organisasi tersebut tercatat aktif dalam berbagai aksi kemanusiaan, mulai dari respons bencana tsunami Aceh 2004, gempa Yogyakarta 2006, hingga masa pandemi COVID-19 melalui pengelolaan delapan dapur umum bagi warga terdampak. Pengalaman tersebut, kata Ruli, menunjukkan kontribusi nyata komunitas transpuan dalam gerakan sosial dan kemanusiaan.

 

Selain kegiatan kemanusiaan, Yayasan Kebaya juga menjalankan program pemberdayaan melalui Sekolah Smart Trans, sebuah ruang pendidikan inklusif yang melibatkan komunitas transpuan, ODHIV, serta masyarakat umum seperti ibu rumah tangga dan tenaga pendidik. Program tersebut diarahkan untuk memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan kemandirian sosial dan ekonomi peserta.

 

Ruli juga menyoroti pentingnya kebijakan publik yang berpihak pada nilai hak asasi manusia. Ia berharap proses penyusunan regulasi di tingkat nasional maupun daerah melibatkan berbagai elemen masyarakat sehingga mampu mendorong pembangunan peradaban bangsa yang inklusif dan menghormati keberagaman.

 

Direktur Yayasan Kebaya Yogyakarta, Vinolia, menambahkan bahwa pemahaman mendalam jurnalis terhadap komunitas menjadi kunci terciptanya karya jurnalistik yang adil dan edukatif. Ia berharap sinergi antara media dan komunitas terus terjalin agar Yogyakarta dapat menjadi contoh praktik terbaik dalam menjaga harmoni sosial di Indonesia.

 

Dalam diskusi tersebut, komunitas juga menekankan pentingnya penggunaan istilah yang tepat dalam pemberitaan. Mereka berharap media menempatkan transpuan sebagai bagian dari kehidupan sosial, bukan sebagai penyimpangan ataupun penyakit. Sejalan dengan itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan bahwa transgender tidak lagi diklasifikasikan sebagai gangguan mental, langkah yang diambil untuk mengurangi stigma dan diskriminasi global.

 

Narasumber dari kalangan media, Shinta Maharani, turut membagikan pengalaman peliputan isu kelompok minoritas serta memberikan panduan etika jurnalistik. Ia menekankan pentingnya menghindari pertanyaan yang menyudutkan narasumber ODHIV serta menjaga kerahasiaan status kesehatan seseorang tanpa persetujuan. Menurutnya, media massa memiliki tanggung jawab besar dalam melawan stigma HIV dan AIDS melalui pemberitaan yang akurat, sensitif, dan berperspektif kemanusiaan.

 

Foto: via Antara

Waria komunitas

Komentar

0 Komentar